Senin, 28 April 2008

Cerita Dari Balai Gadeng

RUANGAN itu kosong. Lantainya berubin putih, kotor. Ini adalah aula pertemuan. Kapasitasnya menampung sekitar 300 kursi. Namanya Balai Gadeng. Di dalamnya ada panggung setinggi lutut. Lantai panggung dilapisi karpet biru murahan. Di latar panggung menjuntai kain hitam. Gambar-gambar memenuhi tembok, terbuat dari cat hitam. Ada gambar wajah, coretan sembarang, juga gambar orang memegang senjata. Suasana sepi.

“Ini aula kami. Tempatnya kotor, kemarin baru selesai peringatan tsunami. Jadi kacau begini,” kata Lia Sulaiman. Kami masuk melalui jendela aula. Pintunya tak bisa dikunci dari luar.

“Lagi rusak,” katanya.

Selasa, 22 April 2008

Uly ( Cerita Fiksi)

Hari ini ada cerita Seorang teman, namanya Uly, dari seberang Sulawesi ia menelfonku. Berkeluh kesah kejadian yang menimpa dirinya. Kekalutan dibenaknya. Ketakutan dan kebodohan.

Suaranya sesenggukan terdengar jelas. Aku bayangkan wajahnya diredam di balik bantal. Pasti tak kuasa lagi menahan tangisnya, dalam nafas sesenggukan itu, ia terus bercerita. Kisahnya dalam beberapa tahun, tentang lelaki yang mengisi hari-harinya. Beberapa diantara mereka telah menjamah tubuhnya. Mulanya hanya minta sekali cium, katanya sebagai ungkapan kasih sayang. Lama kelamaan menjadi tak terkontrol.

Tidur bersama pun menjadi ritual rindu yang menyenangkan. Nafsu yang liar. Pokoknya ada saat dimana sirkus porno-pornoan harus digelar. Dan itu seperti sebuah keharusan.

Rabu, 16 April 2008

Teringat dari Tanah Jauh

Tentang sebuah pengalamaman.

Suatu hari kita akan berpikir dan berjalan sendiri. Mencari kawan, tentu juga akan bertemu lawan. Dalam hidup, kita seperti sebuah siluet. Samar dan tak jelas. Seandainya hidup itu hanya ada hitam dan putih. Jangan ada abu-abu. Itu yang sering membuatku risau.

Tentang kata abu-abu itu, di dalamnya ada kelembutan, kelemahan, kekuatan, kengerian, kebiadaban, keangkeran, surga, dan neraka. Samar dan sangat menakutkan. Dan saya takut berdosa mengatakan, “Tuhan tidak adil membuat sesuatu yang tidak jelas.” Saya berpikir tentang semua hal yang aneh. Hingga teman-teman di kampus pernah berkata jika saya harus ke psikiater.

Saya lahir di desa kecil. Sekitar 350 kilometer dari pusat kota Makassar. Bertepatan peristiwa mengerikan di Tanjung Priok, 12 September 1984, hari Rabu, sekitar pukul 09.00.

Kamis, 10 April 2008

Yang KTP, Yang Lihai

Sebuah catatan (kali pertama berangkat ke Yogyakarta), Stasiun Senen, 11 Januari 2008.

Pukul 19.00 kereta bisnis tujuan Yogyakarta akan berangkat, orang-orang berseliweran. Carut marut. Tak karuan. Membopong tas, megangkutnya di pundak, menjinjing, dan bahkan menariknya secara paksa. Mereka berdesakan ke atas kereta. Seperti anak ayam ketika induknya memanggil untuk membagikan makanan. Dua pintu setiap gerbong. Tak tahu berapa gerbong kereta itu, aku tak sempat menghitungnya. Setelah gerombolan orang memasuki pintu kereta, petugas berseragam pun datang. Menjaga setiap pintu. Berdiri tegap. Matanya menyalak mengawasi setiap gerakan, meski kegaduhan terjadi sebelumnya.

Seorang pria disampingku berpamitan, “Maaf saya harus berangkat”, katanya. Sebelumnya ia menyeruput kopi. Hand phone sonny ericcson di non aktifkan. Di masukkan ke dalam tas kecil, kamudian tas itu di masukkannya pula kedalam backpack. Aku teringat film Mr Bean ketika hendak berlibur, menyiapkan beberapa peralatan, handuk, pasta gigi, sikat gigi, celana, dan makanan kaleng diiritnya, karena akan membebani tas kecilnya. Setelah semua peralatan itu dihematkan, Mr Bean ternyata lupa jika di bawah tempat tidurnya ada sebuah koper besar yang mampu menampung semua barang itu, sebelum handuk, celana, pasta, dan sikat gigi di potongnya.

Rabu, 09 April 2008

Samian Ada di Medika

SEKITAR pukul 24.00 sebuah angkot melaju cepat. Sopirnya nekat menerobos lampu merah. Di belakang kursinya ada empat penumpang, tiga lelaki dan satu perempuan. Satu diantara lelaki itu terus saja memuntahkan isi perutnya dengan darah.
“Bang, tolongin Bang,” kata si perempuan.
“Sabar, sabar ya Bu, istighfar. Sebentar lagi kita sampai di rumah sakit. Suami ibu tidak akan apa-apa. Tenang ya Bu,” kata Ian.

Malam itu angin berhembus kencang melewati kaca jendela mobil. Kilatan lampu mercuri di pinggir jalan, membuat cahaya dalam mobil remang-remang.

Lelaki itu terus saja meregang kesakitan. Yanti sang istri mengusap pelan mulut suaminya yang belepotan makanan dan darah. Ia terus menangis. Ia terus berkata, “Bang, Bang, Bang,….”