Senin, 31 Maret 2008

Jangan Ada Dusta Diantara Kita

Jangan Ada Dusta di Antara Kita
Oleh Eko Rusdianto

PADA Senin 24 Maret lalu, di gedung Departemen Dalam Negeri di jantung Jakarta, ada pemandangan tak lazim. Puluhan geuchik dari pedalaman Aceh mengantri masuk lift, menuju lantai tiga, masuk ke sebuah ruang kecil dengan 52 meja bersusun huruf U.

Seorang geuchik berumur setengah abad memulai bacaannya. Suaranya parau, seperti menahan sesak. Tangannya bergoyang gemetaran hingga kertas yang dibacanya ikut bergetar pula. Sesekali ia memegang kacamatanya. “Kami teng mriki makili kepala desa etnik Jawa ingkang jumlahipun sekawan atus tigang ndoso kepala desa,” katanya dalam bahasa Jawa krama. Artinya, “Kami disini mewakili kepala desa etnik Jawa yang jumlahnya 430 kepala desa.”

Namanya Tukiran. Dia kepala desa Mufakat Jadi, kabupaten Bener Meriah. Ia dipercaya sebagai koordinator geuchik Jawa dari pedalaman Aceh. Di ruangan itu ada 13 geuchik Jawa, termasuk Tukiran, yang memakai blangkon gaya Surakartan. Blangkon ini rata saja, tanpa bendolan –model bendolan adalah gaya Jogjakartan. Satu geuchik memakai topi Aceh. Satu lagi memakai pakaian adat Aceh Gayo: kerawang.

Kamis, 27 Maret 2008

Aceh Yang Menggugat Aceh

Aceh Yang Menggugat Aceh
Oleh Eko Rusdianto

ARISDI DUDUK termenung di kursi merah dalam aula. Ia memakai baju coklat, berkantong depan. Celana pendek hitam. Ia tak menunjukan ekspresi seperti ratusan temannya: berteriak dan bergembira. Pandangannya lurus saja ke depan. Beberapa menit berlalu, ia mengutak-atik telepon genggamnya. Mengetik SMS. Entah pada siapa ditujukan.

Pukul 22.00, acara hiburan di aula itu dimulai. Beberapa kepala desa dan kepala mukim duduk melepas tawa, yang bisa nyanyi menyumbangkan suara. Ketika seorang dari mereka melenggok di atas panggung, yang lain bersorak, tertawa, atau bertepuk tangan. Riuh. Geuchik yang berdendang itu berjalan ke bibir panggung, membungkuk, dengan nada tinggi, ia menutup matanya, menikmati syair lagu.