Senin, 20 Oktober 2008

Wartawan Tua Bermain Bridge


Foto Oleh: Jumain Sulaiman



Seorang lelaki tua, kulitnya putih bersih. Kemeja coklat lengan panjang bergaris, dan berkotak merah. Dalamannya kaos oblong putih. Pada kerahnya terselip sebuah pulpen hitam. Kacamata tebal melengket di pangkal hidung. Di samping rumah ada anjing kecil yang dirantai, sesekali menggongong.

Rambutnya lurus, putih tersisir rapi. Selalu tersenyum. Sekarang rutinitasnya lebih pada pendekatan dengan tuhannya. Setiap pagi ia tak pernah luput berdoa dan membaca alkitab.

Setelah itu, mulai bercanda bersama cucu. Atau membaca koran, Tribun Timur, Kompas, dan Fajar. Dia menikmati liputan Depth News dan menghibur. “Saya senang dengan tulisan feature,” katanya.


Namanya Boet Philipe Manuel Rompas, biasa disingkat B.Ph.M. Rompas, seorang wartawan tua, kepala cabang Indonesia Press Photo Service (IPPHOS) di Makassar untuk Indonesia Timur. Sekarang usianya 76 tahun. “Pelan-pelan saya menulis catatan atau buku tentang pertemuan saya dengan Kahar. Dari awal sampai meninggalnya,” katanya pada saya, 11 September 2008.

Apa hubungan Kahar Muzakkar seorang pejuang DI/TII dengan Rompas?

Pada 1962 Kahar dan Rompas bertemu disebuah pantai. Saat itu ada perundingan antara Kahar dan Panglima Kodam XIV Kolonel Muhammad Jusuf. Rompas ikut Jusuf. Dia lah satu-satunya wartawan yang mengabadikan pertemuan itu.
Pertemuan itu kemudian dikenal sebagai perundingan Bonepute. “Jadi saya pakai seragam tentara lengkap juga. Sebab Kahar minta tak boleh ada wartawan,” kenang Rompas.

Saat itu, Rompas membawa tas. Isinya tape recorder besar dan kamera Besa 2. Di belakang kamera ada tulisan IPPHOS. Sebelumnya Rompas belajar mengucapkan salam Islam. “Assalamualaikum,” sapanya pada Kahar.
“Walikum salam, panglima mana,” jawab Kahar.

Rompas sibuk mengatur jarak lensa kamera. Menghitung-hitung. Jaraknya 2,5 meter. Saat itu kamera tidak outo focus. Sesaat kemudian Jusuf berjalan mendekat. Tiba-tiba Kahar berjalan mreninggalkan tempat duduknya, kemudian berpelukan dengan Jusuf. Stelan otomatis berubah. Rompas kelabakan, tak ada waktu mengatur kembali. Kejadiannya begitu cepat. “Saya langsung menggeser kamera. Jepret. Hasilnya goyang. Mau apa lagi, kejadian itu begitu cepat,” ingat Rompas. Saya melihat hasil gambar itu, memang kurang jelas. Kahar mengenakan pakaian loreng.

Pertemuan usai. Rompas berjalan bersama Jusuf dan Kahar. Rompas berjalan di depan, hendak mengabadikan gambar. Tiba-tiba Kahar bersuara keras. “Hei, ada IPPHOS...”

Sontak Rompas berbalik. Ada ketakutan dalam benaknya. Pikirannya berjalan lain. Tentu ini kecorobohan. Wajah Jusuf pun berubah, ada aura sesal. Bulu kuduknya berdiri. “Matilah saya,” kata Rompas dalam hati.
“Apa kabar, Frans Mendur, ha..,” Kahar tiba-tiba bersuara.
“Baik pak. Dia di Jakarta sekarang,” jawab Rompas sigap.

Frans Mendur adalah pemimpin umum IPPHOS. Dia salah satu wartawan yang mengabadikan penggerekan bendera proklamsi kemerdekaan RI lapangan Ikada Jakarta. Pertemanan Kahar dan Mendur terjalin pada masa revolusi di Yogyakarta.

Menurut Rompas, Kahar sering bermain di kantor IPPHOS Yogyakarta. Bahkan jadi tempat belajar diskusi. “Sampai sekarang saya masih ingat Kahar,” kata Rompas.

======

Kembali ke pekerjaan Rompas sebagai fotografer. Katanaya, jaman sekarang kamera cukup sederhana dan efisien. Serba digital, autofokus. Dulu, jarak harus diatur sendiri. Jika pertemuan di tempat resmi atau indoor, itu suatu keberuntungan. Perhitungan jaraknya lebih gampang. Caranya, perhatikan tegel, satu tegel 20 sentimeter. Artinya, jika lima tegel 1 meter. Pokoknya jangan salah perkiraan, gambar pun akan rusak. “Jadi dulu auto fokus itu, adalah perhitungan seperti tegfel tadi. Bedanya satu dengan pikiran. Satunya hanya tinggal jepret,” katanya sembari tertawa kecil.

Kemampuan Rompas mengambil gambar memang banyak diakui pada jamannya. Dia wartawan tiga masa. Orde Lama, Orde Baru, Hingga reformasi sekarang ini. “Dia guru saya. Dia Master foto, setidaknya untuk Makassar,” kata Yusuf Ahmad, kontributor foto untuk kantor berita Reuters.

Rompas pertama kalai terjun di dunia jurnalistik pada 1955 di majalah IPPHOS Report. Pada 1959 dipidahkan di Makassar. Dia berhenti di IPPHOS pada 1963. Kemudian menjadi free lance atau wartawan lepas. Namun, sejak 1960 mulai membantu koran Pedoman Rakyat salah satu koran tua di Indonesia. Yaitu dua tahun setelah proklamsi kemerdekaan RI. Selain itu Rompas dekat dengan L.E Manuhua, pendiri Pedoman Rakyat.

Pada 1963 menjadi anggota redaksi majalah Hasanuddin yang diterbitkan Dinas Penerangan Kodam XIV Sulselra. Hal ini pulalah yang membuatnya mulai dekat dengan pemerintah. Lalu pada 1975 menjadi wartawan sekaligus redaktur senior Pedoman Rakyat.

Rompas banyak meliput peristiwa bersejarah, dari masalah DI/TII, Republik Maluku Selatan, hingga menyaksikan penyerahan tokoh Permesta Mayor Dee Gerungan di sebuah lereng pedalaman Sulawesi. Celakanaya Rompas bukan seorang pendokumentasi yang baik. Hanya ada beberapa koleksinya, yang lain rusak, sebagian besar hilang. “Soal dokumentasi saya apes,” katanya.

Ketika saya bertemu kedua kalinya, 12 September 2008, Rompas bercerita tentang sistem Demokrasi Terpimpin yang banyak merenggut kebebasan berpendapat. Semua ikut menjadi terpimpin, dalam satu sistem. Hanya ada dua wartawan yang menurutnya tetap konsekuen pada pandangannya, yaitu, Mochtar Lubis dan Rosihan Anwar. Mochtar tetap kritis meski dua kali mendekam di penjara. “Saya tak berani seperti itu. Meski dalam tubuh, jiwa, dan pikiran tetap memberontak,” katanya.
“Bapak takut,”
“Terus terang saja. Iya. Saya kira teman-teman yang lain juga merasakan itu,” katanya dengan suara yang hampir tak terdengar.

Rompas bukan hanya seorang wartawan foto. Dia juga seorang reporter. Mampu menulis dengan baik. Tak kurang dia menulis laporan perjalanan untuk Pedoman Rakyat. “Jadi jika ada wartawan foto yang tak bisa menulis, sebenarnya dia tak layak dikatakan sebagai wartawan,” ungkapnya.

Kini, Rompas banyak menghabiskan waktunya di rumah. Kebiasaannya bermain bridge atau kartu remi di komputer tiap hari dilakukan. Alasannya, untuk melatih ingatan. Aktivitas lainnya berkunjung ke Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), sekedar bertemu teman-teman lama. Memang, sejak 1959 Rompas telah menjadi anggota organisasi ini. Selama rezim Orde Baru PWI dan Dewan Pers dianggap dua institusi yang banyak dimanfaatkan rezim represif Presiden Soeharto ketimbang melawannya secara efektif.

Sekarang Pedoman Rakyat tak lagi terbit. Tak jelas apa yang terjadi, terkatung masalah internal. Pada awal 2007, koran ini dibeli oleh seorang pengusaha. Wajah Pedoman Rakyat, berubah. Tapi tak banyak membantu. “Saya kira ini yang terus menjadi polemik. Kegagalan Pedoman waktu itu karena tak mampu membaca pasarnya. Kita (redaksi pedoman-red) tak berpikir jika pembaca setia Pedoman itu orang tua. Setelah mereka, ada anaknya, dan koran tak berubah, terus bertahan pada bentuk awal. Jadinya pembaca lepas,” kritik Rompas.

Suara Rompas agak berat. Batuk sekali mengganggunya. Cucunya berlarian, keluar masuk. Lelaki Manado itu terus saja duduk. Tubuhnya tinggi, sekitar 175 sentimeter disandarkan di kursi.

Sekarang, Rompas menumpang di rumah anaknya di kompleks perumahan dosen Universitas Negeri Makassar (UNM). Biliknya di jalan Dr Sutomo bermasalah. Ada yang mengklaim sebagai kepunyaan. “Peliklah urusannya,” tutur Rompas.

Rumah di perumahan dosen itu, kecil. Pagar bambu. Dari balik tembok, istrinya sesekali muncul. Hanya tersenyum, kemudian menghilang lagi. Namanya, Lily Elisabeth, guru besar Universitas Negeri Makassar, sudah pensiun. Kesehatannya kurang baik. Penyakit gula menghantamnya. “Sekarang waktunya menjaga istri. Dia sudah kurang sehat,” kata Rompas.
“Saya bisa bertemu ibu,”
“Nda usah, dia sudah tak mampu. Penyakitnya sekarang itu, kadang membuatnya lupa jika dia pernah jadi guru besar atau dosen,”

Ternyata penyakit tua Rompas muncul juga. Hari pertama dia mengatakan pertemuan dengan Kahar pertama kali, saat perjanjian Bonepute 1961, padahal seharusnya 1962. Atau kelahirannya bulan Oktober, padahal dalam catatan riwayat hidupnya adalah November. “You ingatkan ya kalau ada salah,” katanya.

Selain itu, Rompas menuturkan kebanggaannya pada Lily. “Saya cukup beruntung karena dia. Sekarang saya yang nebeng ke dia. Saya kan sudah tak terima gaji, sejak Pedoman berhenti,” lanjutnya.

Matahari pelan-pelan semakin terik. Jarum jam telah menunjuk pukul 12.30, sudah dua jam lebih Rompas mengurai ingatannya. Wajahnya mulai terlihat letih. Satu kali dia menguap. Dia mengantar saya hingga ke gerbang pagar. Wartawan tua yang hidup dalam kesederhanaan. Wartawan tua yang bermain bridge. “You jangan sungkan datang ya,” katanya.

*) Di publikasikan oleh Harian Fajar

3 komentar:

Didik Irawan mengatakan...

Wahahahaha akhirnya dimuat juga ya ko tulisan panjangnya, kikikikik... Sedikit lega dong bisa nulis yang agak panjang

Yati mengatakan...

weih...keren!

btw, paragraf pertama berulang di paragraf kedua. "lelaki itu" dan "dia seorang pria"..

saya yg salah baca ya? hehehe...kita masih saling mengingatkan kan? :p

Nur Muhammad Ahmad mengatakan...

jelek tulisanya