Selasa, 22 Juli 2008

Sungguh Sepi Wendi...? (fiksi)

Wendi belum bisa memejamkan kedua kelopak matanya. Jiwanya meronta perih. Ada sesenggukan dalam dada. Tapi tak tahu bagaimana mengeluarkannya. Kini hanya ada ranjang, seprei, dan beberapa pakian kotor yang berserakan. Tak ada lagi yang mengurus.

Pekerjaan di kantor membuatnya linglung tak keruan. Harusnya ia mengambil cuti, tapi kembali ke rumah membuatnya tersiksa setengah hidup.

Jauh hari ketika Wendi belum mendapat rontahan jiwa, ia menulis rindu-nya dalam bait. Wendi punya teori mengabadikan kenangan harus dengan tulisan. Walau menulis baginya cukup sulit. Aturannya jari harus tetap di keyboard. Menulis, menulis, dan menulis.



Suatu ketika Ia menerima sms Wina, pacarnya. “Kenapa tak menelpon. Apa tak rindu,” tulis Wina dalam pesan singkat itu. “Saya pun rindu,” tentu Wendi langsung me-reply.

Pertanyaannya bagaimana rindu itu muncul? Tentu harus mencari penyebabnya. Alasan utamanya adalah berjauhan. Wendi heran kenapa harus rindu jika saling berjauhan. Bukankah perasaan saling menyukai itu tak termakan oleh waktu apalagi jarak. Tapi ketika perasaan saling menunjukan keegoisan sebagai sifat untuk memiliki maka rindu akan menjelma. Membabi buta, seperti setan yang tak lelah mencari sahabat. Begitu kata guru agama di sekolahan, bukan?

Telah terbayang sekian kali wajah Wina. Senyumnya, giginya, tubuhnya, dan banyak hal lainnya. Ia selalu datang pada malam. Pada siang. Di kasur, di depan komputer, di kamar mandi, atau di angkutan. Dan membayangkan itu membuat hidup semakin nikmat, semakin bermakna.

Rindu itu pun akhirnya terkubur. Wendi menemukan Wina, saat liburan. Wendi menyentuhnya, memeluknya. Mereka berdua saja, jemari lama-kelamaan merapat menyatu. Lembut tapi mencengkram. Mereka ditepian pantai. Di Losari yang bising, dan menjengkelkan.

Entah apa yang terjadi hari itu cukup sunyi. Tak ada deburan ombak. Atau suara pengamen yang menyebalkan. Hanya ada satu suara, keheningan. Desiran angin yang melintas pelan di daun telinga. Dan kau memandangku tajam. Saya takut melihat matamu. Seperti burung hantu. Tajam bagai mengawasi tikus si mangsanya.

Kini sandaranku kugeser sedikit. Pantatku ikut bergoyang. Ada jarak beberapa sentimeter diantara kita. Kau semakin menatapku. Kau takut akan kutinggalkan. Meski demikian saya pun takut meninggalkan. Kini kita hanya berdua. Tak ada siapa-siapa dan tak ada apa-apa.

Tiba-tiba ditengah dingin itu. Saya menatapmu, tak setitik pun helai benang membuat penglihatanku berkerut. Lalu kau berbisik pelan, “Saya ingin kita berdua telanjang,” ucapmu. Angin malam itu, seperti membungkus tirai dengan gaun malam yang pekat. Kita seperti patung. Ada risau dalam hati. Diam-diam saya malu melihat tubuh kita diterpa cahaya bulan. “Aku kedinginan,” katamu. Tubuhku lalu kurapatkan. Kubenamkan wajahmu dalam dadaku. Kau tak menangis. Meski dentuman jantungmu begitu keras. Dan seluruh tubuhmu menggigil. “Aku ingin mati disini,” ucapmu.
“Seperti malam yang menganugerahi kelelawar ketajaman penghilatan, hingga binatang lain tak menggangunya menyantap makanan. Aku juga ingin seperti itu tak ada yang menggangguku disini,”
“Aku ingin mati disini,” ucapmu mengulang kata dengan sangat meyakinkan.
“Maukah kau berjanji padaku. Kelak kau akan menguburkanku disini. Dibawah kursi ini,” desakmu, sekali lagi.

Saya mengangguk perlahan.

Lima menit kemudian kau tak hirau lagi, kurangkul badanmu naik sebuah kendaraan. Kau masih mendekapkan wajah di dadaku.

Kini semua itu kuingat dalam. Setelah tubuhmu terbujur kaku di ruang operasi rumah sakit beberapa waktu lalu. Kanker otak. Kejadian itu seperti kemarin. Saya mangangkatmu naik ambulans. Kendaraan super cepat yang bising bunyi. Seperti membawa arak-arakan melewati jalan. Saya benci mengingat konvoi-konvoi itu.

Kini pemakaman begitu damai. Hanya ada karangan bunga. Doa petuah kampung. Dan saya meninggalkanmu sendiri di liang itu.

Tadi pagi saya mengunjungi tempat kita berdua. Tempat keheningan terakhirmu ingin dimakamkan. Kursi duduk kita kini lenyap. Tempat itu seperti asing, saya berkerut mengingat-ingat. Tak ada lagi keheningan. Kesunyian. Bulan yang mengintip kita waktu itu. Sekarang berganti cahaya mercury yang buat mata berkunang. Di sana pula sekumpulan kawanan anak muda menghabiskan malam memetik gitar. Ia mencoret apa saja di depannya. Saya tahu anak muda itu ingin terkenal, namun tak tahu jalan mencari kesuksesan. Sekumpulan pemuda putus asa.

Ya, tempat itu sekarang menjadi super mall, tempat kongkow remaja, tempat melepas perawan, atau melepas keperjakaan. Sebelum di ruang operasi itu, saya yakin kau pun datang mencari tempat kita. Tempat telanjang kita. Tempat duduk kita. Tempat rencana nisanmu. Tempat bulan mengintip kita. Tempat kunang-kunang menari. Tempat penuh kenangan. Kini saya menyesal tak mampu menjagamu, bersama kenangan itu.

Setonggak kemboja di gumpalan tanahmu. Saya akan menjauh. Hingga suatu ketika kita akan tidur berdampingan. Seperti janji Ngabonar mendampingi Kirana kelak kemudian hari. “I love you full,” ingatku.

2 komentar:

DZ mengatakan...

Tulisannya menikam. Langsung ke jantung!

Anyway, thanks sudah mampir ke Dunia Tanpa Lelaki dan meninggalkan jejak disana.

Oh iya, tolong sampaikan salam untuk si cantik di "ruang kata" ya.. Saya suka sekali blognya. Itu salah satu contoh perempuan berkualitas, cerdas, mandiri, dan bertalenta. Tolong sampaikan undangan saya padanya ya? Mudah-mudahan dia mau meluangkan waktu bergabung memberi kontribusi di Dunia Tanpa Lelaki..

Salam,

DZ

Sartika Nasmar mengatakan...

Kenapa harus Kanker Otak??? Meski fiksi, mengerikan. Sumpah!!!

Buat dz,
Terimakasih undangannya dan pujiannya..

Salam,
Tika