Selasa, 06 Mei 2008

Menjemput Ajal

Di sini kita mulai. Berdua tentunya. Tanpa henti, janji kita. Bergerak tak peduli ancaman. Lalu berjalan begitu lama. Tak ada pikiran pulang, tapi takut akan cerita.

Pada jalan itu, kau berbisik.
Ayo pulang
Saya tak tahu apa yang membuatmu berubah. Adakah sesuatu yang kau amati, kau lihat.
Apa yang kau takutkan, balasku.
Aku melihat rumput di taman mall. Sangat sedih. Ia kedinginan.

Di samping jalan kita rintik hujan menyapa. Petir mendekat, bagai akar rumput yang mencari air dipuncak-puncak gedung.
Kita berteduh dulu ya, pintamu.
Dihalaun kita, pula, orang-orang sigap, membuka pintu mobil. Lalu kita bersandar di tepian tembok, saling mengeratkan jari.

*)Kebayoran Lama, 18 April 2008.

5 komentar:

Oryza Ardyansyah Wirawan mengatakan...

Kita berteduh dulu ya, pintamu.

Kita cari kehangatan dulu ya, pintaku... dan body mu yang seksi membuat puisiku menjadi nyata...

Anjrit... jadi puitis kau, daeng@!

Adam Dhi-Jhe mengatakan...

"Maafkan aku jika aku tidak dapat memberikan yang kau inginkan".

Dj berkata :

Mungkin itu yang akan kau ucapkan kawan...

Adam Dhi-Jhe mengatakan...

He...he..., mau yah mas?. Kalo mau tukaran ama baju, oke...

PERHATIAN DJ: DILARANG KERAS MENGCOPY SEGALA JENIS GAMBAR DAN TULISAN DARI BLOGSPOT, TANPA SEIJIN PEMILIKNYA.

he...he...

perempuan tangguh mengatakan...

puisi ta keren. sumpah!!! tapi, kenapa sedih ka baca di'???

Yati mengatakan...

:(
mungkin dia idak berubah ko, mungkin dia mampu melihat sesuatu di depan sana...

kok sedih gini ya, bacanya...