Selasa, 20 Mei 2008

Kalau Takut, Jangan Menulis!

PADA Rabu 7 Mei lalu, sekitar pukul 11.45 beberapa orang berkumpul di ruangan kecil Bentara Budaya Jakarta (BBJ), sebagian besar dari mereka telah beruban. Diantaranya Taufik Ismail, Leo Batubara, Adnan Buyung Nasution, Masmimar Mangiang, Jakob Oetama dan Arya Gunawan.

Di ruangan itu, ada dua belas pion putih menyangga sisi tembok. Dekorasi ruangan hampir semua di lapisi kayu coklat yang telah dipernis. Di belakang tempat duduk ada meja khusus untuk master kontrol, saya melihat dua orang menjaganya. Jika sedikit saja pengeras suara atau microphone bermasalah maka salah satunya akan sigap berdiri. Jakob Oetama pemimpin Kompas Gramedia pelan berjalan keluar ruangan. “Ayo makan. Makan,” ajaknya.
“Ini kan sudah jam dua belas, sudah waktunya lah makan siang,” lanjutnya, lagi.

Beberapa saat kemudian sekumpulan orang-orang itu mengantri memegang piring masing-masing.



Saya duduk bersama Imam di sisi ruangan, dekat meja tempat hidangan yang Jakob hampiri. Ada dua meja hidangan ditempat itu. “Saya Imam pak. Dari Pantau,” sapa Imam.
“Ya, ya. Pantau. Apa kabar,” balas Jakob.

Saya tak maju menyalaminya. Saya hanya tersenyum padanya. Jakob membalas dengan ramah.

Di perjalanan sebelum sampai di BBJ saya membayangkan Jakob itu lelaki yang berotot. Tegar. Dan pemain tenis lapangan, olahraga khas orang-orang berduit di tanah air ini, sedikit dibawah pamor dengan golf. Tapi, siang ini saya melihat seorang tua yang berjalanpun harus sedikit membungkuk, dengan badan gemetaran. “Ini ya Jakob Oetama,” tanyaku dalam hati.
“Ternyata Jakoeb itu orangnya sudah tua ya. Seharusnya dia pake tongkat kalau kemana-mana,” kataku pada Imam.

Hari ini adalah peluncuran buku, Nirbaya, Catatan Harian Mochtar Lubis Dalam Penjara Orde Baru yang dibuka Jakob sendiri. Sejenak dalam ruangan itu saya seperti seorang anak kecil yang dikelilingi kakek-kakek.

Saya tak mengenal Mochtar Lubis. Di ruangan kecil dan dingin itu, ada spanduk bertulis Nirbaya. Pikir saya Nirbaya adalah istri Mochtar Lubis. Diskusi pun berjalan, Jakob, Masmimar, Adnan, Taufik, Arya, mulai bercerita semua mengagumi kepekaan Mochtar. Keberanian. Dan Kecerdasannya. Saya menyiapkan pena, rekaman saya letakkan di atas sound sistem, mendengar secara cermat. Tapi lebih dari dua jam diskusi buku itu tak sedikit pun menyinggung nama Nirbaya. “Ada apa,” tanya saya dalam hati.

Saya memang belum sempat membaca buku itu. Saya celingukan sendiri. Namun, saya terhibur ketika Leo Batubara wakil ketua dewan pers bercerita. “Waktu saya mendengar Mochtar Lubis di penjara, saya memberanikan diri mengirim surat, untuk menggantikannya dalam penjara sebab Mochtar lebih dibutuhkan di luar daripada saya,” kenangnya.

“Waktu saya masih muda sekitar 20-an tahun,” katanya, lagi.

“Hal yang paling menyenangkan dari Mochtar adalah sikap keras dan konsistennya. Saya tak pernah dengar atau membaca satu tulisan pun tentang keluh kesahnya,” tutur Masmimar.

Tak lama setelah itu, Taufik Ismail berdiri. Saya juga tak mengenalnya (dalam rupa fisik), namun saya pernah membaca beberapa tulisannya. Taufik langsung berceracau. Orangnya kecil, sekitar 160 cm, lebih sedikit. Dari belakang terlihat jelas kepala tengahnya yang botak, mengkilat. Gaya bicaranya lucu seperti hendak membaca puisi, tangannya bergoyang mengikuti ritme suaranya. “Apa yang perlu kita teladani dari Mochtar. Apa yang perlu kita lihat dari Mochtar. Hanya satu ia cerdas dan pantang menyerah,” katanya.

Taufik mengenang, Mochtar selalu keletihan saat menangani harian Indonesia Raya. Sering capek. Tapi ketika Mochtar dan Taufik mendirikan majalah Horison, Mochtar sangat semangat. “Mochtar itu senang kalau dia di Horison. Pikiran tidak perlu kelelahan. Di Horison tidak dicekoki beberapa masalah. Ia hanya berpikir tentang satu isu, yaitu sastra,” kata Taufik.

Saya mengingat ucapan Andreas Harsono, menurutnya sastra itu mencakup dunia tulis secara umum. Artinya tulisan fiksi dan non fiksi adalah bagiannya. Jurnalisme adalah sastra, begitu pula novel, cerpen, puisi dan gaya penulisan lainnya adalah sastra. “Sastra itu bukan dalam pengertian sempit,” kata Andreas.

Apa yang menarik dari Mochtar Lubis adalah sikap kritis dan keuletannya. Tak heran jika yayasan Obor yang juga turut didirikannya, mengenangnya dengan membuat lomba penulisan Mochtar Lubis Award. Festival meniru atau terinpirasi oleh hadiah Pulitser yang diadakan di Amerika Serikat. “Saya kira tak ada yang keberatan jika nama Mochtar kami pakai. Dan saya kira ini adalah sebuah hal yang wajar untuk mengenang beliau,” kata Ignatius Haryanto penyusun catatan Nirbaya ini.

MOCHTAR LUBIS meninggal tahun 2 Juli 2004 lalu. Dalam umur 82 tahun. Dimata teman-teman seangkatannya Mochtar adalah pencetus jurnalisme investigasi untuk media di Indonesia. “Dia menulis itu tanpa takut-takut,” kata Leo Batubara.

Dalam buku hariannya, Mochtar menulis, jika cukup banyak kawan-kawannya yang menyampaikan padanya jika menyampaikan kriktik, terutama pada penguasa-penguasa orang Jawa, kritik tidak boleh langsung tetapi harus tidak langsung, sindiran yang amat halus hingga tidak menyakitkan, harus pakai cara ular, berputar-putar tak mencapai sasaran seperti yang dipraktikan Jakob Oetama di harian Kompas.
“Ini semacam lingkaran setan juga,” tulis Mochtar.

Kini setelah membaca buku itu, saya sedikit tahu jika Mochtar adalah seorang tokoh besar pers Indonesia. Ia pemimpin harian Indonesia Raya, koran terbesar pada zamannya. Beberapa kali bredel, kemudian hidup kembali hingga akhirnya mati kemudian.

Mochtar cukup akrab dengan tahanan. Pada saman Orde Lama dia dipenjara selama sepuluh tahun. Dalam keterkaitannya dengan penjara itu, menghasilkan sebuah catatan. Judulnya Catatan Subversif, tebalnya 402 halaman terbit 1980. Sedangkan pada masa presiden kedua RI, ia mendekam dalam tahanan selama satu bulan lebih, pada 1975. Dalam masa itulah naskah Nirbaya ini muncul.

Nirbaya adalah sebuah penjara yang digambarkan Mochtar dekat dengan Taman Mini Indonesia. Dalam satu catatannya, ketika Taman Mini Indonesia yang merupakan proyek kembagaan Ibu Tien Soeharto, diresmikan dengan pesta kembang api. Ia dan tahanan dalam kamp Nirbaya sangat terhibur, meskipun hanya 15 menit dengan aneka warna bunga api itu. Ada tahanan yang tiap kali sebuah kembang api padam, lalu berteriak, “ayo Mpok Tien, bakar lagi dong!”

Mochtar juga adalah sosok kesepian. Ia berkali-kali menulis untuk Hally sang istri tentang kegundahannya dalam kamp itu. Seperti, “Peluk cium kasih sayang dan gairah hangat padamu dan dengan kasih sayang pada anak-anak, Maya, Tanya, Ike,”
“Peluk cium, hangat rindu,”
“Ciuman, pelukan, dan segalanya.”

Dan masih banyak lagi ungkapan serupa.

Mochtar adalah semangat jurnalisme yang hidup. Ia adalah satu-satunya wartawan dari Indonesia yang masuk 50 tokoh pers di seluruh dunia. Semangat dan kesabaran membuat karyanya menjadi hidup.

Di dalam kamp Nirbaya, ia tak menghabiskan waktu melamun. Ia berolahraga, menulis, melukis dan terus beraktifitas. Ia manusia yang tak mau tenang, ada banyak ide dalam kepalanya. Mochtar Lubis Waratawan cum Seniman. Dua sisi yang sangat membuatku cemburu.

Siang itu saya seperti mendengar dongeng baru yang menggairahkan. Penuh semangat jauh diatas kancil. Selama ini referensi saya tentang jurnalisme adalah Gunawan Muhammad, Rosihan Anwar, Jakob Oetama, PK Ojong, LE Manuhua, dan sedikit lainnya. Tentu tak termasuk Mochtar Lubis. Tapi sekarang pertemuan kecil itu membuka mata saya.

Di halaman belakang sampul buku Nirabaya, saya lihat ada kutipan tulisan Mochtar, “apa yang saya bikin orang-orang berkuasa tak senang atau takut pada tulisan-tulisan saya? Saya sungguh heran. Saya tak berjuang dalam organisasi massa, saya tidak membina sesuatu massa. Saya hanya mencurahkan isi hati nurani dan pikiran-pikiran saya untuk kemajuan bangsa, perbaikan keadaan, mengoreksi apa yang perlu saya rasa dikoreksi, tapi orang-orang berkuasa selalu merasa gelisah menghadapi buah pikiran saya.”

2 komentar:

Yati mengatakan...

weh, keren...
eh bukunya brarti udah beredar?

jufrizal mengatakan...

salam kenal jg dari jufrizal tuk bang eko. salam tuk bang didik jg ya. ooiii..kata bg didik pingin ya ke Aceh!!izal kasih ide giman?kita tukaran posisi kontributor pantau ja!!hee..he..bang eko di Aceh, Jufrizal di Jakarta. siippp kan..!!