Jumat, 02 Mei 2008

Debat Ahmadiyah, Debat Islam

TERIAKAN takbir tak henti-hentinya menggema dari kerongkongan ribuan orang yang menyesaki pintu barat Monumen Nasional, Minggu 20 April, lalu. Mereka berjalan dari masjid Istiqlal, melewati Istana Merdeka, dan tujuannya: membubarkan Ahmadiyah.

“Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.”

“Bubarkan Ahmadiyah. Ganyang Ahmadiyah.”

Massa itu berkumpul. Sebarisan laskar Front Pembela Islam membuat pagar betis, hingga ribuan orang itu berjarak sekitar lima meter dari bibir panggung. Laskar itu memakai pakian putih, dengan ikat pinggang besar. Tangan dilipat di depan dada, atau berdiri tegap, seperti posisi istirahat, dalam latihan baris-berbaris. Bendera bertulis ayat Al Quran dikibarkan. Tak ada yang boleh memasuki daerah steril itu.

“Pasang ID Mas. Kalau tidak ada ID Card jangan mendekat,” kata seseorang, saat wartawan ingin mendekat.


Di atas panggung Munarman, pengacara yang juga ketua advokasi Forum Umat Islam berteriak, “Kita memberi waktu pemerintah tiga hari untuk membubarkan Ahmadiyah. Kalau tidak, kalau tidak, mereka akan kita bunuh, saudaraku,” katanya, mengacungkan telunjuk ke udara. “Kibarkan panji-panjimu. Jangan takut. Ganyang Ahmadiyah!” Munarman berseru.

“Allahu Akbar,” serentak massa mengikutinya.

“Dulu kami (Forum Betawi Rempug) ini, sering ribut masalah cewek atau yang lain. Tapi sekarang kami wajib ribut untuk masalah Islam. Setuju?” kata Fadoli Elmunir, ketua Forum Betawi Rempuk, yang ambil giliran pidato.

Ridwan Saidi, kolumnis suratkabar, ikut berorasi dan mengkritik lembaga hak asasi manusia, Kontras, ikut-ikutan membela Ahmadiyah. Menurutnya Kontras tak tahu apa-apa. Orgnisasi ini sama saja sebagai “antek penjajah.” Ridwan membaca SMS dari telepon genggamnya, “Ini SMS dari seorang karib saya. Katanya, ‘Jika pemerintah tidak mau membubarkan Ahmadiyah maka FBR akan bertindak sendiri.’”

Ketua Majelis Ulama Indonesia Cholil Ridwan menyatakan pemerintah harus membubarkan Ahmadiyah. Para pengikut Ahmadiyah merusak aqidah Islam. Untuk itu Ahmadiyah diharamkan untuk menginjakkan kakikinya di tanah suci Mekkah dan Madinah. “Kalau tidak dibubarkan maka dalam kenaikan haji akan banyak jamaah Ahmadiyah yang melenggang kangkung,” katanya.

Matahari semakin meninggi. Sebagian orang mengasoh di taman Monumen Nasional. Entah dimana pula kijang-kijang yang biasa terlihat disini. Mereka duduk membentuk kelompok-kelompok tertentu. Ada yang membuka bekal. Memijat betis. Menemani anak-anak mereka bermain. Atau sekedar kipas-kipas.

Saya melihat seratusan anak ikut dalam aksi itu. Ketika helikopter melintas di atas kepala, orang-orang tua mereka dengan senang menunjukkannya. Anaknya menganga mengikuti helikopter itu hingga hilang dari pandangan mata. Dan orasi demi orasi terus berlangsung.

Sekitar tengah hari, ribuan orang itu membubarkan diri setelah ditutup doa Habib Rizieq Shihab dari Front Pembela Islam. Di balik pagar dalam taman, Sarwono kebingungan mencari istri dan anaknya. Ia duduk celingukan di bawah pohon taman. “Saya membawa keluarga untuk membiasakan mereka melihat keadaan,” katanya.

“Selain itu, ini kan Minggu, hari libur, sekalian refreshing juga,” lanjutnya.

Di tempat berbeda, mobil boks polisi bertulis “Toilet” jadi sesak. Orang-orang antri buang air. Di atasnya beberapa reporter televisi berdiri depan kamera melaporkan aksi.

Suhada berdiri menatap jauh ke pangung. Di sampingnya seorang anak lelaki meminta lembaran seribuan. Ia ingin membeli kain kecil bertulis ayat Al Quran untuk diikatkan di jidatnya. Suhada aktivis FPI.

“Pokoknya Ahmadiyah harus bubar. Tanpa kecuali. Itu kan yang diserukan ulama-ulama kita juga,” katanya.

“Kami tidak sudi tanah kami dikotori. Ahmadiyah harus dihancurkan dimuka bumi,” kata Arsat dari Front Betawi Rempuk.

DUA HARI sebelumnya, seusai salat Jumat, juga digelar tablig akbar di masjid Al Arqam, Blok F Pasar Tanah Abang lantai 7. Ratusan jamaah dari berbagai organisasi Islam memadati masjid. Di lantai dasar, transaksi jual-beli berlangsung wajar.

Di tengah sesak pengunjung pasar, seruan penghentian Ahmadiyah terdengar lantang dari pengeras suara. Tiga spanduk terpampang di depan jalan masuk. Isinya pencekalan. “Bubarkan Ahmadiyah = Harga Mati.” Kemudian gambar Mirza Ghulam diberi tanda silang merah di wajahnya dan api memanggangnya dari bawah.

“Ahmadiyah itu hanya merusak aqidah umat Islam. Mana mungkin ajaran yang dibiayai oleh Inggris Yahudi itu akan memperbaiki Islam?” kata pengacara Munarman.

Sedangkan menurut Abu Bakar Baa’syir dari Majelis Mujahidin Indonesia, Islam itu adalah sebuah ideologi dan aturan. Islam harus menjadi asas tunggal. Ba’asyir mengatakan sistem demokrasi yang dianut oleh negara Republik Indonesia nantinya akan melumpuhkan kekuatan Islam. Syariah tak boleh dicampur dengan demokrasi. Islam harus keras, tak ada kompromi. Aliran Islam seperti liberal, tradisonal, dan sekuler adalah itu salah. “Kalau saya jadi Presiden, bukan membubarkan Ahmadiyah, tapi pemimpinnya ta’ gantung,” kata Ba’asyir.

Ini kali pertama saya mendengar langsung Ba’asyir berpidato. Saya khawatir mendengar khotbah Ba’asyir. Indonesia, sebuah negara yang punya lebih dari 300 etnik, puluhan ribu pulau serta dibangun dengan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika,” bisa kacau bila mengikuti tafsir Ba’asyir. Jaminan dari Undang-undang Dasar 1945 soal kebebasan memeluk agama dan kepercayaan hanya jadi kumpulan tulisan mati.

Irshad Manji, seorang muslimah warga Kanada, etnik Gujarati (kini bagian India), pelarian dari Uganda zaman diktator Idi Amin, menulis dalam bukunya, Beriman Tanpa Rasa Takut, atau The Trouble with Islam Today, bahwa salah satu sebab munculnya paham kekerasan dan berpikir kaku di kalangan Muslim adalah bentukan madrasah. Manji menilai kehidupan madrasah membungkam proses berpikir kritis. Dia menganggap mayoritas madrasah hanya memperkenalkan wajah Islam yang keras. Ada pemasungan berpikir. Lelaki dan perempuan dipisahkan dengan partisi yang menjadikan kotak-kotak dalam pikiran.

“Bertanyalah tentang uang yang Anda sumbangkan ke lembaga amal. Sejumlah lembaga donor tanpa disadari membiayai sekolah-sekolah dan lembaga-lembaga sosial yang dijalankan oleh kelompok fundamentalis Islam. Para fundamentalis ini menekankan para lelaki untuk pergi ke mesjid (dan) para perempuan untuk membungkus tubuh mereka. Mereka mendorong diakhirinya sekolah yang mencampur lelaki dan perempuan secara bersama, melarang para gadis untuk belajar sains, olahraga, dan seni. Mereka menganjurkan pendidikan yang mengajarkan kebencian terhadap kelompok lain.”

Di Tanah Abang, saya lihat Ba’asyir memilih Islam keras. Islam fundamentalis. “Tak ada kompromi. Orang kafir hanya bisa hidup, tapi tak boleh berkuasa,” kata Ba’asyir.

DI SALAH satu ruangan samping masjid Al Hidayah, Jalan Balikpapan I No 10, Muhtiar menyambut saya dengan segelas teh. Di sana sudah ada dua wartawan televisi TV One. Beberapa menit kemudian wartawan Media Indonesia datang. Kami duduk berbincang. Tujuan kami, menemui Zafrullah A. Pontoh, orang Bolaang Mongondow, yang jadi wajah Ahmadiyah kepada media.

Tiba-tiba Suparman, salah seorang jamaah Ahmadiyah, berdiri mencari remote control televisi. Sesaat berlalu mereka terdiam. Berita sore dari Trans 7 mengagetkan isi ruangan. Musyawarah kerja Ahmadiyah di Pulau Bali gagal. Mereka menyimak. Bahkan pulau Hindu itu pun tak sanggup menahan tekanan terhadap minoritas Ahmadiyah. Trans 7 lalu menayangkan beberapa adegan kekerasan yang menimpa Ahmadiyah sejak 2002. Mulai dari Pulau Lombok sampai Parung, selatan Jakarta. Ada tayangan pelemparan, perusakan, dan pembakaran. “Masya Allah, itu seperti bukan Islam lagi. Islam tak demikian,” kata Suparman, pelan.

Muhtiar mengenang pengepungan terhadap kampus Mubarak di Parung pada 2005. Saat itu, menurutnya, ada sekitar 20 ribuan anggota Ahmadiyah di Parung. Ini hanya sebagian kecil dari total jamaah seluruh Indonesia, yang mencapai 500 ribu. Menurut Muhtiar, sebenarnya mereka bisa melawan. Namun jamaah memilih bertahan tanpa melakukan perlawanan. “Tak ada peperangan fisik menurut ajaran kami,” katanya. Perang terbesar adalah bagaimana mengembalikan Islam pada keadaan semula sesuai syariah.

“Jika waktu itu pemuda Ahmadiyah melawan, maka akan terjadi pertumpahan darah besar-besaran. Tentu itu bukan tipikal kami yang cinta dengan damai,” kata Muhtiar.

Sejak peristiwa penyerangan di kampus Mubarak, pusat Jaringan Islam Ahmadiyah (JAI) menjadi lebih dikenal secara di Indonesia. Saat itu, Ahmadiyah diserang sekelompok warga, yang menyebut diri mereka, “Masyarakat dan Umat Islam Parung Bogor dan Jakarta.” Jamaah JAI dilempari kayu dan batu. Bangunan dan beberapa aset lainnya dihancurkan. Penyerang menuntut pertemuan tahunan JAI dibatalkan. Para anggota JAI harus segera meninggalkan lokasi.

Layar telivisi masih menayangkan K.H. Amidan dari Majelis Ulama Indonesia. Dia mengatakan jika warga Ahmadiyah mempercayai Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi mereka, maka kalimat sahadatnya pun harus diganti. Jangan memakai kata “Muhammad Darasulullah.”

“Jadi Ashadu Allah Ilaha Ilallah Was Ashadu Anna Mirza Ghulam Ahmad Darasulullah. Harus begitu,” kata Amidan.

Warga JAI percaya Mirza Ghulam Ahmad sebagai “nabi” setelah Muhammad. Walau Ghulam Ahmad tak membawa syariah atau kitab suci. Sekaligus dia dianggap sebagai Al Masih dan Imam Mahdi, yang dijanjikan Al Quran. Banyak orang macam Amidan menunjuk bahwa Tadzkirah, buku yang ditulis Mirza Ghulam, diyakini jamaah Ahmadiyah sebagai kumpulan wahyu dan mejadi kitab suci.

Idris, salah seorang jamaah Ahmadiyah di ruangan itu, mengatakan, “Wah berani juga dia. Itu kan salah. Kami tetap berpegang pada Al Quranul Karim dan kalimat Sahadat. Kami tak berbeda.”

“Yang berhak mengatakan aliran itu sesat kan hanya Allah Ta’ala,” kata Muhtiar.

JAKARTA kembali mendung. Dua hari kemudian, saya tiba di depan masjid Al Hidayah dengan pagar tertutup rapat. Ada lima polisi menjaga pagar. Mereka duduk di luar pagar yang tergembok. Di bagian dalam sebuah spanduk membentang: “Selamatkan Martabat Bangsa: Selamatkan Ahmadiyah.”

Saya bertemu Zafrullah A. Pontoh, juru bicara Ahmadiyah, dekat masjid Al Hidayah. Di Ahmadiyah, Pontoh lebih dikenal sebagai mubaligh. Dia orang campuran: Banten, Bolaang Mongondow, Manado maupun Bugis Bone. Dia kelihatan senang ketika tahu saya juga asal Sulawesi, kota Palopo. Di atas mobil Kijang Avansa banyak tumpukan kertas. “Ini mobil operasional Ahmadiyah,” katanya.

Ia memakai kemeja putih bergaris dengan celana hijau halus. Sambil bercerita ia menggoyangkan kakinya naik turun. “Kami di Ahmadiyah itu cinta damai,” katanya.

Kami melakukan wawancara di sebuah tempat makan dekat Jalan Cideng Timur. Dia melepas songkok hitamnya. Sesekali menyeruput teh poci di hadapannya.

Pontoh menekankan bahwa mereka bingung mendengar macam-macam tuduhan orang di luar Ahmadiyah. Jika orang berpendapat bahwa Tadzkirah adalah kitab suci Ahmadiyah, Pontoh bilang dia sendiri merasa tidak begitu. Ahmadiyah tak pernah menganggap Tadzkirah sebagai kitab suci. “Jadi kami bertanya apakah bukan orang itu yang berkitab suci terhadap Tadzkirah. Kan begitu toh,” katanya.

Dia mengatakan mempelajari literatur-literatur lama. Menurutnya, para sahabat dan Siti Aisyah, istri Nabi Muhammad, menganggap bahwa Muhammad adalah “khatamun nabiyyin.” Namun bukan berarti pintu kenabian, dalam bentuk dan jenis apapun, akan tertutup setelah kewafatan Muhammad.

Makanya, dalam pemahaman Ahmadiyah, “khatamun nabiyyin” adalah nabi suci yang membawa syariat. Artinya, nabi yang paling mulia.

Karena yang paling mulia, maka sesuai surah Annisa ayat 70, yang memahaminya dalam rangkaian surah Al Fatihah, “Ihdinassiratal mustakim siratan lazina an amta alaihim.” Artinya, “Tunjukkanlah kami jalan yang lurus, jalan orang yang telah Engkau beri nikmat kepada kami.”

“Nah sekarang kita harus mencari yang diberi nikmat itu siapa?”

Kata khattamun adalah “menutup.” Sedangkan khattib adalah “penutup.”

Dua kata ini berbeda. Jadi menutup itu, diartikan tak ada syariah lagi, tapi nabi yang lain tidak tertutup kemungkinan akan muncul. Jadi Muhammad bukan nabi penutup “Saya kira ini hanya persoalan logika,” kata Pontoh.

“Mirza Ghulam telah meninggal. Sebagai Al Masih, apa tugasnya telah selesai?” tanya saya.

“Khalifahnya kan ada. Dia punya penerus,” kata Pontoh.
Dia juga geli mengetahui orasi pengacara Munawar di Monumen Nasional bahwa “Inggris Yahudi” membesarkan Ahmadiyah.

“Inggris menganut ajaran Trinitas. Dan itu yang dilawan Mirza Ghulam. Ini kan satu hal yang tidak masuk akal? Kan logika ndak bisa terima itu. Tapi kalau orang memfitnah ini kan ada saja. Orang tidak tahu akan termakan fitnah,” kata Pontoh.

Trinitas adalah ajaran gereja Kristen Katholik maupun Protestan. Intinya, Tuhan itu tunggal namun tiga: Allah Bapa, Allah Putra dan Roh Kudus. Pandangan ini membuat sosok Isa Al Masih, seorang tukang kayu etnik Yahudi dari Betlehem, dari “seorang nabi” menjadi “seorang Allah Putra.”

Menurut catatan jamaah Ahmadiyah, organisasi ini pertama kali masuk ke Hindia Belanda sejak 1925. Mulanya, Ahmadiyah datang di Tapaktuan. Pada 1929, Jemaat Ahmadiyah berdiri di Padang. Pada 1932, Jemaat Ahmadiyah berdiri di Batavia, ibukota Hindia Belanda. Pusat Jemaat Ahmadiyah Indonesia, sejak 1935, berada di Batavia, lantas berubah nama jadi Jakarta, ketika Jepang menduduki Asia Tenggara 1942. Dan pada tahun 1987, mereka mendirikan kampus di Parung, Bogor.

Ijin legal dari pemerintah Indonesia, sebagai organisasi yang berbadan hukum, muncul pada 1953. Pada 2003, Ahmadiyah mendapat ijin sebagai organisasi kemasyarakatan melalui surat Direktorat Hubungan Kelembagaan Politik No. 75//D.I./VI/2003.
Aliran Ahmadiyah dibagi menjadi dua. Pertama Ahmadiyah Qadiyan berpusat di Parung, Bogor. Aliran ini percaya jika Mirza Ghulam adalah seorang nabi. Sedangkan Ahmadiyah Lahore, berpusat di Yogyakarta, meyakini Mirza Ghulam sebagai pembaharu dalam Islam.
Sekitar pukul 16.00 akhirnya hujan mengguyur daerah Cideng Timur. Di jendela restoran lantai dua, kendaraan terlihat jelas saling serobot. “Ada tanggapan dari Hidayat Nur Wahid, Ahmadiyah tinggal dua pilihan, mengakui Nabi Muhammad sebagai nabi terakhir, dan tetap mengakui Mirza Ghulam sebagai nabi, lalu keluar dari Islam,” tanya Fajri, wartawan Rakyat Merdeka.

“Islam ini milik siapa? Tidak ada satupun yang memiliki Islam kecuali Allah swt. Oleh karena itu tidak ada satu orang pun yang bisa mengeluarkan orang dari Islam. Kecuali Allah swt sendiri,” jawab Zafrullah Pontoh.

Pada 1974, pertemuan Liga Muslim Dunia di Mekah, Arab Saudi dengan delegasi 140 negara menilai Ahmadiyah sebagai sesat. Kerajaan Arab Saudi, selaku penjaga Makkah dan Madinah, menyatakan warga Ahmadiyah tak boleh naik haji ke Makkah. Sejak 1975, kerajaan Brunei Darussalam dan Malaysia juga melarang ajaran Ahmadiyah.

Ketika ditanya soal Saudi Arabia, Zafrullah Pontoh tersenyum. Ia menilai itu sebagai aturan pemerintah Arab Saudi. Untuk melakukan haji, dalam Islam adalah kewajiban, jika tidak ada halangan. Misalnya, faktor keamanan, kesehatan dan perbekalan. “Kalau ini salah satunya tidak memenuhi sayarat, ya tidak wajib. Tapi kalau semua sudah memenuhi syarat maka menjadi wajib. Lalu ada yang menghalangi, dia (penghalang untuk haji) yang bertanggungjawab terhadap Allah swt.”

PADA 16 April, Kejaksaan Agung dan Badan Koordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (Bakorpakem), mengeluarkan rekomendasi jika Ahmadiyah telah menyimpang dari ajaran pokok Islam dan hanya menunggu Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri serta Kejaksaan Agung untuk sah menghentikan segala aktivitas Ahmadiyah.

Ketua Bakorpakem Wisnu Subroto pada Republika menilai bahwa Ahmadiyah telah melakukan kegiatan dan penafsiran keagamaan, yang menyimpang dari pokok-pokok ajaran Islam serta menimbulkan keresahan dan pertentangan dalam masyarakat yang dapat mengganggu ketertiban umum.

Sebelumnya 1980, MUI juga telah mengeluarkan fatwa yang menetapkan Ahmadiyah sebagai jamaah di luar Islam, sesat dan menyesatkan. SK inilah yang “menghalalkan darah” jamaah Ahmadiyah.

Zafrullah Pontoh mengatakan selama keberadaan Ahmadiyah di Indonesia, pihak MUI belum pernah memberitahukan letak sesatnya di mana. Ini yang membuat pengikut Ahmadiyah bingung.

Ia menilai sekarang adalah waktu tepat untuk membuka jalan dialog, jangan berteriak dan memprovokasi massa. “Dulu pendahulu kami mengusulkan hal ini pada masa Buya Hamka, namun tak direspon dengan baik. Makanya sampai sekarang jadinya begini saja,” katanya.

Persoalan agama memang isu sulit. Masing-masing penganut kepercayaan mengakui aliran mereka benar dan paling sahih. Perbedaannya, Ahmadiyah percaya jika Imam Mahdi telah ada. Sementara Islam pada umumnya masih menunggu Imam Mahdi.

Sebelum meninggalkan Pontoh di restoran sore itu, saya teringat ucapan Muhtiar. Sikap saling menjaga sebagai warga negara harus dijaga. Ia juga tak mempermasalahkan ketika saya hanya ikut salat dhzuhur sedang ashar tidak.

“Itu hak Mas. Itu keyakinan Mas, dan itu persoalan dengan Tuhan sendiri,” kata Muhtiar.

*) Naskah ini dipublikasikan oleh www.pantau.or.id

3 komentar:

Yati mengatakan...

aaaahhh, kamu! lagi2 saya keduluan :p

indo merdeka mengatakan...

http://sosoknabipalsu.wordpress.com

ecko koto mengatakan...

ahmadiyah sungguh sangat sesat, hm.. Nabi muhammad adalah nabi penutup dan allah tlah mentup jabatan nabi stelah nabi muhammad, dan ahmadiyah itu sgguh sangat sesat.. Mdh2han allah menunjukan hati klian untuk kembali kpda ajaran islam yg sesungguhnya... Amin...