Kamis, 10 April 2008

Yang KTP, Yang Lihai

Sebuah catatan (kali pertama berangkat ke Yogyakarta), Stasiun Senen, 11 Januari 2008.

Pukul 19.00 kereta bisnis tujuan Yogyakarta akan berangkat, orang-orang berseliweran. Carut marut. Tak karuan. Membopong tas, megangkutnya di pundak, menjinjing, dan bahkan menariknya secara paksa. Mereka berdesakan ke atas kereta. Seperti anak ayam ketika induknya memanggil untuk membagikan makanan. Dua pintu setiap gerbong. Tak tahu berapa gerbong kereta itu, aku tak sempat menghitungnya. Setelah gerombolan orang memasuki pintu kereta, petugas berseragam pun datang. Menjaga setiap pintu. Berdiri tegap. Matanya menyalak mengawasi setiap gerakan, meski kegaduhan terjadi sebelumnya.

Seorang pria disampingku berpamitan, “Maaf saya harus berangkat”, katanya. Sebelumnya ia menyeruput kopi. Hand phone sonny ericcson di non aktifkan. Di masukkan ke dalam tas kecil, kamudian tas itu di masukkannya pula kedalam backpack. Aku teringat film Mr Bean ketika hendak berlibur, menyiapkan beberapa peralatan, handuk, pasta gigi, sikat gigi, celana, dan makanan kaleng diiritnya, karena akan membebani tas kecilnya. Setelah semua peralatan itu dihematkan, Mr Bean ternyata lupa jika di bawah tempat tidurnya ada sebuah koper besar yang mampu menampung semua barang itu, sebelum handuk, celana, pasta, dan sikat gigi di potongnya.


Pria itu kemudian hilang dalam kerumunan. Sekitar lima menit bersamaku, aku menikmati Pocari Sweat, ia dengan secangkir kopi yang mengepul. Celaka aku belum tahu siapa namanya, tapi sebelumnya ia berujar akan turun di stasiun Purwokwerto. Petugas stasiun dari pengeras suara mengumumkan keberangkatan kereta. “Bagi penumpang yang tidak berkepentingan diharapkan turun dari kereta, kereta akan segera berangkat. Untuk para penumpang semoga selamat sampai tujuan, terima kasih”, katanya.

Ting, ting, ting, tong, tong, ting, tong, ting, melodi itu terdengar terus. Sekali klakson besar terdengar, poommmm…kereta dengan pelan bergerak, kemudian melaju. Jendela setiap gerbong terlihat samar, seperti membentuk garis putus-putus.

Kerta bisnis itu berlalu. Segerombolan orang masih memenuhi peron. Kali ini orang-orang menunggu kereta kelas ekonomi. Sama seperti saya. Dari jauh, seorang bapak berkacamata, bertopi hitam, menderet tas koper. Rompinya biru kelam, tangan kanannya menjepit sebatang rokok. Ia berhenti sejenak memperhatikan orang-orang disekitarnya. Kepalanya menoleh kiri-kanan, kemudian rokoknya di injak. Di samping tempatnya berdiri, sekelompok keluarga sedang duduk melingkar. Barang-barangnya di dudukan ditengah mereka. Seperti sebuah pesta, perempuan yang paling tua menyodorkan sebuah teko, membuka dengan perlahan, tutup teko itu berfungsi sebagai gelas. Gadis di depannya menggapai, menuangkan (mungkin kopi hangat), kemudian perlahan, meniup sekali, sesudah itu menyeruputnya. Gelas itu kemudian berputar mengelilingi tujuh orang dalam lingkaran dengan teratur. Kali ini aku mengingat keluarga Bengali yang meninggalkan kampung halamannya, saat tiba di Calcutta dalam Negeri Bahagia (City of Joy) karya Domique Lapirre. Inilah kehidupan kecil orang-orang rantau, pikirku.

Sekitar enam meter dari pusat pesta kecil itu, aku duduk memeperhatikan mereka. Tiba-tiba seseorang datang menghampiriku, “Bisa duduk disini,” katanya meminta sedikit tempat kosong dekatku.

Namanya Mangil, seorang pensiunan Angkatan Laut. Ia masuk angkatan laut sekitar 1960-an, pensiun umur 50 tahun. 15 tahun ia meganggur sampai saat ini. Artinya sekarang Mangil 66 tahun. Sebagai seorang pensiunan militer, tubuhnya masih terlihat bugar. Pundaknya masih terlihat kokoh, urat tangannya menyembul keluar. Kemudian ia berbalik kepadaku, “Ade mau kemana,” katanya.
“Ke Jogja Pak,” jawabku.
“Naik kelas ekonomi juga ya, berarti sampai di Jogja pagi,” lanjutnya.
Aku tak menjawab, hanya mengangguk. Setelah itu ia memperlihatkan tiketnya padaku. “Aku dapat diskon 20 persen,” pamernya.

Mendapat diskon itu, cukup memperlihatkan KTP sebagai tanda pensiunan Angkatan Laut. “Biasanya kan, setiap instansi militer baik Angkatan Laut, Angkatan Darat, dan Angkatan Udara punya diskon khusus untuk setiap angkutan transportasi, tak terkecuali pesawat dan kapal laut,” katanya.

“Dulu malah lebih enak. Setiap akan berangkat ke mana, saya cukup membuat surat jalan dari kantor. Tanda tangan sendiri. Biayanya pasti gratis, kita kan punya jatah,” lanjutnya mengenang sebelum pensiun.

Mangil banyak bercerita tujuannya ke Cirebon menenemui saudara. Bahkan tak luput pula cerita tentang kondisi bangsa yang menurutnya sudah makin aneh. Dulu (zaman orde baru) penjahat masih kurang, sekarang sudah berbanding terbalik. “Dulu orang make tatto saja sembunyi-sembunyi, sekarang malah dipamerin. Sebagai seni lah, padahal gambar badan itu identik dengan preman”, katanya.
“ Jadi hal buruk itu kemudian di jadikan gaya-gayaan. Bukan kah orang yang memiliki tatto itu sebagai tanda pernah masuk penjara”, tegasnya sambil menunjukkan pria yang berdiri di depan kami dengan tatto di lengannya.

Setelah dengan Mangil aku berkenalan dengan Suwarto yang datang beberapa saat ketika Mangil meninggalkanku pamit ke toilet. Suwarto lebih mudah di banding Mangil. Suwarto mengenalkan diri setelah beberapa waktu lalu memintaku melihatkan tiketnya, “Ini gerbong berapa ya,” tanyanya.
“Gerbong delapan, kursi no 14 Pak,” jawabku.
“Wah, paling terakhir ya,”

Cara bicara Suwarto seperti anak sekolahan, intelek. “Kalau di Depok orang memanggilku ustads, tapi nama asli saya Haji Ahmad Suwarto, kadang juga orang menyapaku kiai,” katanya.

Jika Mangil mendapat tiket dengan harga diskon, beda dengan Suwarto. Ia memamerkan kelihaiannya dengan membayar setengah harga dari tiket itu. Caranya gampang, cukup naik kereta lebih awal. Kemudian menemui seorang petugas kereta, lalu berkata saya mau ke Kebumen, tapi uang kurang. Setelah itu baru lobi. “Buntutnya, ya bayar setengah harga tiket itu,” kenangnya.

“Tapi terakhir aku sadar jika yang kulakukan itu tak benar. Kecuali dalam keadaan mendesak hal itu boleh lah,” ungkapnya.

Suwarto terus bercerita, tanpa henti. Di Kebumen ia akan menghadiri pernikahan keluarga. Ia didaulat membawa ceramah, seperti wejangan bagiamana menjadi suami istri yang baik. Tapi, setelah pernikahan itu selesai maka akan segera ke Jakarta. “Banyak urusan aku”, lanjutnya.

Di peron, ia mengisahkan jika seharian badannya sangat letih. Meski seharusnya tak boleh capek. Sebab pekerjaannya adalah memandikan jenazah dan membacakannya doa. “Ya, aku heran kenapa aku merasa letih. Padahal itu sudah menjadi kebiasaan,” ceritanya.

Mengetahui aku sedang sekolah, atau pelatihan wartawan ia pun mengutarakan keinginan menulis sebuah buku tentang pengalamannya bagaimana sampai ke Jakarta. “Kisahku itu tidak ada duanya, dulu waktu aku disuruh ke Jakarta aku tidak mau. Aku hanya mau menjadi anak kampung. Bukankah ini menarik,” katanya.

Menurutya dulu ketika orang tuanya memaksa ke Jakarta ia menolak. Namun, berkat waktu, keteguhan hati Suwarto pun luluh. Tapi ia mengajukan syarat, harus dibelikan sebuah rumah. Keinginan itu tak terkabul, orang tuanya hanya menjanji. “Tapi sekarang sudah di Jakarta, bukankah ini menarik,” tegasnya sambil membuka kedua telapak tangan di depan dadanya.

Kereta Api Progo telah berada di depan peron tempatku duduk. Inilah kereta kelas ekonomi, yang kami tunggu, dari bapak yang menginjak rokok, sekumpulan keluarga, Magil, dan Suwarto. Warna kereta kuning kusam. Aku duduk di gerbong 7 kursi no 23 E, Mangil juga di gerbong 7 kursi 8 A, sedangkan Suwarto berada di belakang gerbong kami. Hiruk pikuk kereta begitu membisingkan. Perjalanan pukul 22.00 dari Jakarta stasiun Senen sampai Yogyakarta stasiun Lempuyangan pukul 08.00. Tanpa jeda kebisingan. Dan ini jugalah alat tranportasi kedua setelah metro mini yang tak memperhitungkan kenyamanan penumpang. Disini teori ekonomi tak berlaku pembeli adalah raja. Tapi siapa cepat dia dapat. Atau hanya karena kelas ekonomi bukan kelas orang beruang. “Mungkin saja,” pikirku dalam hati.

Di atas kereta ada mini market berjalan. Setiap kebutuhan tersedia. Dari makanan sampai penjual sisir dan gayung berseliweran. Pun tak luput tim kebersihan entah dari mana, pengamen, pengemis, sampai petugas kereta berseragam. Semua menjadi satu dalam kereta kelas ekonomi. “Dunia yang menyenangkan sekaligus menjengkelkan,” gerutuku sekali lagi dalam hati.

Dalam kereta ini, penumpang duduk saling berhadapan. Dua-dua orang untuk setiap kursi pada sisi kiri kereta, dan tiga-tiga orang pada sisi kanan kereta. Beruntung saja aku di kursi bagian E bersama kursi D. Untuk sisi kanan kereta itu, hurufnya A, B, dan C.

Disampingku seorang Bapak tua, kerjanya hanya tidur. Hampir dalam perjalanan yang melelahkan, lebih banyak tidur dibanding terjaga. Ia turun satu stasiun denganku. Di depanku seorang ibu dengan anaknya, turun di stasiun Sukoharjo.

Suara rel kereta begitu bising. Ditambah pengamen yang saban saat tanpa mengenal waktu meneriakkan lagu. Praktis dalam perjalanan itu aku tak bisa istirahat dengan tenang.

Sebentar lagi kereta akan berhenti di stasiun Jatinegara. Dua orang pria dari arah depan kursi, setengah berteriak melantunkan sepatah dua kata lirik lagu. Sambil berjalan mereka terus beryanyi, seorang di belakang mereka menjulurkan tangan. Seperti seorang pengemis dia meminta uang jasa dari suara dan petikan gitar temannya yang lain. Tak sampai dua menit pria itu tiba di dekatku. Badannya besar, kulitnya hitam. Matanya merah. Rambutnya tak disisir, aku lihat sperti itu, berantakan. “Bang,” katanya menyodorkan tangan, dalam genggamannya uang seribuan dan recehan berkumpul.
“Maaf bang,” jawabku sambil mengangkat satu tangan kearahnya, tanda tidak akan memberi.
“Berapa-berapa saja lah,”
“Maaf bang, ga ada,”
Ia kemudian mendekatkan mulutnya ke telingaku. “Hati-hati,” bisiknya.
“Ga ada, bang,”
Pria itu belum beranjak. Ia kemudian mengulang bisikannya, “Hati-hati,” sambil memperlihatkan sebuah silet di tangan satunya. Aku tebelalak, heran. Aku ingat kata Didik teman se kamar di Jakarta, "kalau pengamen antara Senen dan Jatinegara memang rese-rese," katanya. Dan untuk amannya kukeluarkan juga selembar uang seribuan. Setelah sebelumnya ia menolak uang receh Rp500 rupiah.
“Ada-ada saja cara orang mencari uang ya,” kata Bapak disampingku, kemudian kembali menutup matanya.

WAKTU terus berjalan. Subuh hari sudah terlewati. Dari balik jendela aku menatap, ladang dan area persawahan yang hijau. Aku masih melihat kabut dari kejauhan di lereng gunung, entah gunung apa. Matahari telah bersinar, kuning emasnya telah terlepas. Kereta pun berhenti, orang-orang dengan wajah lusuh turun lemas. Inilah tujuan akhir kereta, Stasiun Lempuyangan. Aku turun beberapa saat, aku menoleh kiri-kanan, penjual dan penjaja makanan saban malam di atas kereta tak lagi terlihat. Pengamen yang berisik juga menghilang. “Dimana mereka, apa mereka nginap di atas kereta, atau turun di stasiun sebelumnya.”

Sesaat berlalu telepon genggamku berbunyi, teman yang menjemput sudah di depan stasiun, saya meninggalkan mini market berjalan, dan penyanyi yang berteriak itu.

3 komentar:

Oryza Ardyansyah Wirawan mengatakan...

Aku suka Daeng udah mulai nulis travelogue. Eko, pinjam sama Mas Andreas bukunya Richard Llyod Parry. tapi bahasa inggris sih. Travelogue nya bagus, bosss

Yati mengatakan...

ekoooo....! saya suka baca2 blogmu. iyo tauwa, banyak mi tulisannya di pantau. ajar dulue! malu ka...nda pernah nulis :d ko taulah, dikejar2 dedlen, ngeselin!

Adam Dhi-Jhe mengatakan...

He...he..., saya sudah baca blogmu parner. Kayaknya tambah jogoko menulis di'?, tapi masih ada yang kurang boss, sori kalo saya kritik sedikit. Kayaknya tulisan itu kehilangan karakter sesungguhnya tidak di tulis dengan kesungguhan jiwa sehingga hanya menjadi cerita belaka, tak ada emosi yang mengalir didalamnya. Tapi ini menurutkuji, mungkin saya yang tidak paham tulisan seorang profesional, eh... ada juga blogku boss, kunjung2ngi juga, tapi masih baru sih... adamdjumadin.Blogspot.com, ditunggu yah. Tolong kalo ada tulisan yang bagus kirim ke emailku. ok, tk