Rabu, 09 April 2008

Samian Ada di Medika

SEKITAR pukul 24.00 sebuah angkot melaju cepat. Sopirnya nekat menerobos lampu merah. Di belakang kursinya ada empat penumpang, tiga lelaki dan satu perempuan. Satu diantara lelaki itu terus saja memuntahkan isi perutnya dengan darah.
“Bang, tolongin Bang,” kata si perempuan.
“Sabar, sabar ya Bu, istighfar. Sebentar lagi kita sampai di rumah sakit. Suami ibu tidak akan apa-apa. Tenang ya Bu,” kata Ian.

Malam itu angin berhembus kencang melewati kaca jendela mobil. Kilatan lampu mercuri di pinggir jalan, membuat cahaya dalam mobil remang-remang.

Lelaki itu terus saja meregang kesakitan. Yanti sang istri mengusap pelan mulut suaminya yang belepotan makanan dan darah. Ia terus menangis. Ia terus berkata, “Bang, Bang, Bang,….”



Beberapa menit kemudian mobil itu berhenti di sebuah rumah sakit. Namanya Medika Permata Hijau. Lelaki itu di gotong keluar dari mobil. Saya mengangkat bagian pinggulnya, Ian memegang bagian kepala. Sopir, kernet, dan seorang petugas rumah sakit membantu membopongnya naik ke ranjang dorong, pasien.

Tak lama kemudian Samian begitu nama lelaki itu, telah berbaring di ruang Unit Gawat Darurat. Beberapa petugas medis berpakaian putih, cekatan memasukkan selang kecil ke dalam mulutnya. Jarum infus telah tertancap di punggung telapak tangan kirinya.

Samian semakin mengeluarkan muntahan. Yanti keluar ruangan. Ia tak tahan melihat keadaan suaminya. “Ibu temani Bapak saja di dalam,” kataku.
“Nggak tega liatnya Bang,”

Di depan UGD itu Yanti tersandar di kursi panjang. Matanya terus berair. Kepalanya terus ditundukkan, seperti tak berani memperlihatkan wajahnya.

Suara sesenggukan batuk terdengar sesekali dari dalam ruangan. Yanti berdiri, ia berjalan masuk. Di sana ia menampung mulutnya dengan baju kaos putih, bergambar pulau dewata Bali. Saya menemaninya berdiri.

Malam semakin larut. Keadaan Samian sepertinya membaik. Saya dan Ian keluar, duduk di dekat pos jaga. Tiba-tiba Yanti memanggil. Saat itu teman sekamar di kontrakan, Didik dan Lendom pun sudah datang.
“Bang bisa minta tolong. Saya di bantu dulu soal biaya ini,” kata Yanti.
“Emang berapa,” tanya Didik.
“Begini dek, bapak harus di foto scanning. Biayanya 700 ribu,” kata seorang dokter perempuan.
“Apa nggak ada jalan lain. Ini harus di tempuh ya Dok,”kata saya.
“Makanya kami informasikan dulu. Takutnya nanti keluarga nggak bisa bayar. Ya kalau tidak di scanning takutnya ada apa-apa. Kita (pihak rumah sakit) nggak bisa menanggung juga,” jelasnya.

Kami berlima mengangguk menyetejui untuk foto scanning. Kami mengumpulkan uang. Dalam hati, saya berpikir ternyata dokter dimanapun, dan meskipun keadaan pasiennya telah kritis mereka tetap berpikir uang dan biaya. Bisnis yang menguntungkan. “Bukankah tiap saat ada orang yang sakit,” kata Lendom.

Sekitar pukul 03.00 Samian belum juga di scanning. Tapi cara bernafasnya kini tak lai tersengal. Beberapa kabel menempel di bagaian dadanya. “Pendarahannya cukup parah. Sudah sampai ke otak,” kata dokter perempuan itu, lagi.

Tekanan darah Samian 200 lebih. Jumlah yang tak seharusnya terjadi. Sebab tekanan darah yang tinggi seperti ini bisa membuat pembuluh darah pecah. “Ini sudah menjadi stroke,” lanjut dokter itu.

Saya melihat wajah Yanti pucat pasih. Ia terus memegangi jaket sang suami yang penuh sisa muntahan.

MALAM ini Lendom kelelahan. Ia baru saja pulang menyusuri Jakarta. Sekitar pukul 23.00 ia membaringkan badannya di atas kasur. Ian pun begitu. Saya pun ikutan. Didik keluar kamar, biasa ritualnya menelpon Cheris sang pacar. Kecuali Didik tentu kami merasa di atas kasur dunia menjadi ringan. Tiba-tiba di lantai dua kamar kontrakan, suara dentuman terdengar dengan cepat. Tetangga Padang yang kami bersuara kencang, memarkan otot lehernya. Wah malam-malam begini kok bertengkar pikirku dalam hati.

Semakin ribut. Semakin gaduh. Saya keluar kamar. Mendongak ke atas lantai dua. “Bang, tolong liatin Bang,” kata teangga Padang itu panik.
“Kenapa Bang,” tanyaku.
“Suaminya sakit,”

Saya berlari ke atas. Didik pun dengan sigap naik tangga. “Entar dulunya. Nanti aja telponnya. Ada yang sakit,” katanya sambil berbisik memutuskan hubungan telponnya dengan Cheris.
“Liatin Dik,” kataku.
“Ini kenapa Bu,”
“Tadi dia uda minum obat. Terus jadi begini,” jawab istrinya yang terus berderai air mata.

Di dalam kamar Samian terbaring lemah di atas kasur lipat. Kakinya terus menghentak. Busa tak hentinya keluar dari mulut. Saya tak kuasa melihatnya. “Wah ini harus ke rumah sakit Dik,”
“Ya, uda cari taxi ‘ko,”

Jalan Raya Kebayoran Lama pada pukul 23.00 ke atas sudah sunyi. Hilir mudik kendaraan tak lagi membosankan. “Kita pake angkot saja,” kataku.
“Ya uda nggak apa-apa,” jawab Didik yang menyusul ke luar.

Ian dan Lendom telah bangun. Angkot sudah menuggu di ujung gang. Jalan kontrakan sangat kecil, tak bisa dilalui kendaraan roda empat. Mereka membopong Samian keluar menuju angkot, dengan empat orang lainnya. “Tolongin ‘ko,” kata Ian.
Saya mendekat. Saya memegang pantat Samian. “Jangan disitu. Di tangannya ‘ko,” sergah Ian.

Tubuh Samian cukup besar.

“Dua orang naik ke mobil dulu,” kata Ian.
“Ayo-ayo. Pelan-pelan,”
“Bang jangan diseret begitu Bang,” kata Istrinya.
“Tenang Bu,” kata Didik

Di atas angkot Samian di baringkan dilantai mobil. Bukan di atas kursi. “Nggak dilapisi bantal Yan,” kataku.
“Nggak usah,” jawab Ian.

Angkot pun melaju.

SEKITAR pukul 09.00 kesekonnya Yanti duduk terpaku di kamar jenazah. Samian sudah terbujur kaku di hadapannya. Baju kaos yang terus di pegangnya tadi malam kini dikenakan. “Uda meninggal Bang,” sambutnya ketika saya dan Ian datang tangah hari sekitar pukul 12.00, setelah di telepon adik Samian.

Saya tak mampu berkata lagi. Untuk menunjukkan rasa simpatik saya memegangi pundak Yanti. Lalu mangusapnya perlahan.

Samian sudah terbujur kaku. Seperti tak menyangka ternyata kepergian nyawa itu tak tahu kapan waktunya. Satu lagi bukti saya percaya rahasia kehidupan. Sementara itu, adik almarhum memanggil kami ke ruangan satpam. “Terima kasih banyak bantuannya tadi malam Dek,” katanya. Kami hanya tersenyum.
“Ini saya kembalikan uangnya. Tadi malam uang itu tak jadi dipakai. Bos almarhum membiayai semuanya.”

Samian bekerja sebagai sopir perusahaan di kawasan Simprug Jakarta Selatan. Saya juga kurang tahu perusahaan apa. Tak enak menanyakan semua dalam keadaan duka seperti itu. Tetangga kontrakan pun tak ada yang tahu pasti kerjaan almarhum.

Sementara Samian masih terbujur kaku. Yanti memandanginya tak bosan. Kain putih sudah menempel di semua lekuk tubuhnya. Tak sedikit pun celah untuk dapat mengintip kulitnya. Balutan kafan itu direkatkan dengan isolasi putih buram. Ambulance belum tiba. Samian belum dimandikan. “Dimakamkan dimana Pak,” tanyaku.
“Dibawah ke Cilacap dek.”

Setengah jam berlalu saya meninggalkan rumah sakit. Saya membayangkan perjalanan panjang almarhum. Yanti duduk bersimbah air mata, terus menjaga disampingnya. Ada delapan jam menuju Cilacap. )*

Tidak ada komentar: